Kunjungan ke Japan Foudation Jakarta

1-japan

Oleh : Ahmad Noval

Dalam rangka pembelajaran dan pengenalan budaya serta bahasa, mahasiswa program studi D-III Sekretari Universitas Pamulang (UNPAM) mengadakan kunjungan ke Japan Foundation Jakarta yang beralamat di Summitmas I Lt. 2, Jl. Jenderal Sudirman, Kav. 61-62 Jakarta 12190, Indonesia. Acara yang digelar pada hari Selasa (3/10) yang dihadiri oleh mahasiswa dan dosen Sekretari berjalan dengan lancar dan penuh antusias.

2-japan

Para mahasiswa dan dosen disambut baik dan penuh kehangatan oleh direktur dan staf Japan Foundation Jakarta. Bahkan, saat menuju ke lantai 2 didampingi oleh salah satu CEO Japan foundation. “Ohayo Gozaimas (selamat pagi), selamat datang di Japan Foundation, selamat menikmati acara yang kami persembahkan. Festival kebudayaan film Jepang, dan semua yang berkaitan dengan budaya, bahasa dan hal-hal lainnya, akan kami perkenalkan”, jelas Norihisia Tsukamoto, direktur Japang Foundation Jakarta.

3-japan

Disela-sela sambutan, Norihisia banyak menjelaskan bahasan dan budaya Jepang. Tidak hanya itu, karya tulis dan festival film Jepang akan di putar di Indonesia. “Festival film Jepang akan diputar di Grand Indonesia tanggal 2 November mendatang. Ada 15 film yang akan diputar yang membuat warga Indonesia tertarik dan menambah wawasan tentang budaya dan bahasa Jepang,” tuturnya. Festival film Jepang sudah pernah diselenggarakan beberapa tahun lalu, hingga banyak menarik perhatian Indonesia. “Ada tiga project yang akan kami perkenalkan yaitu budaya, bahasa dan dialog,” jelas direktur Japan Foundation ini.

4-japanPada kunjungan kali ini, mahasiwa dan dosen akan diperkenalkan salah satu budaya japan yaitu budaya melihat bulan istilah bahasa jepang disebut sukimi, yang biasa dilakukan pada bulan September dan Oktober. “Bila diartikan suki artinya bulan dan mi artinya  melihat. Budaya tersebut  di percaya untuk menghormati, karena di bulan tersebut musim panen bagus dan oke,” paparnya

5-japan

Selain itu, ada budaya Furoshiki. Budaya ini sejak jaman Edo (sekitar tahun 1600-an) furoshiki sudah sangat populer di Jepang. Furoshiki adalah sebuah kain yang dapat dilipat untuk membungkus berbagai barang. “Kata ‘furo’ artinya mandi dan ‘shiki’ yang artinya menghapar,” tutur Ersi salah satu staf Japan Foundation. Budaya ini pun terus dipertahankan dan berlanjut guna mengurangi pemakaian plastik dan ramah lingkungan. “Karena persaingan yang ketat, kini Furoshiki pun mengadakan promosi dengan jenis dan model kain yang unik. Furoshiki sendiri dapat dipakai sebagai tas, pembungkus barang dan lain lain,” jelasnya.

img-20171003-wa0040

Gambar yang terdapat pada Furoshiki, ada ikan yang sedang melawan arus air terjun yang deras. Ragam tersebut menandakan bahwa seorang lelaki harus bisa menjawab tantangan, berhasil dan sukses dikarirnya, serta tidak menemui kesulitan. “Simbol ini sesuai dengan alur kehidupan di masyarakat Japan yang rajin, giat dan pantang menyerah dalam menghadapi masalah,”  lanjutnya.

1-japan

Anggota Journalist Club

Ahmad Noval: Anggota Journalist Club